HmI News

Latest Posts

Puluhan Aktivis Mahasiswa Gelar Aksi Kemanusiaan “Sejuta Doa untuk Rohingya”

- Saturday, 9 September 2017 No Comments

hmisambas.or.id- Aksi kemanusiaan kembali diserukan mahasiswa dari bumi Sambas, Kalimantan Barat. Kali ini puluhan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi menggelar aksi kemanusiaan peduli muslim Rohingya. Mereka terdiri dari aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sambas, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Poltesa, Korps Suka Rela (KSR) Poltesa, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Poltesa, Forum Bidikmisi Poltesa, serta relawan mahasiswa lainnya. Aksi dimulai ba’da sholat Jumat. 08 September 2017 dengan tema besar “Sejuta Doa untuk Rohingya”.
Koordinator lapangan, Nur Eko Pamungkas mengatakan, aksi kemanusiaan yang dilakukan ini berupa penggalangan dana dan penggalangan doa untuk muslim Rohingya. Menurutnya, aksi ini merupakan keterpanggilan mahasiswa atas tragedi yang menimpa muslim Rohingya.
“Aksi ini adalah bentuk kepedulian terhadap musibah dan ujian yang menimpa muslim Rohingya. Sebagai muslim, kita adalah satu tubuh. Jika satu merasakan sakit, maka anggota badan yang lain juga akan ikut merasakan sakit” ungkapnya. 



Aksi penggalangan dana dilakukan di beberapa titik di Kota Sambas, di antaranya di bundaran Tugu Tabrani, Pasar Sambas, dan di pertigaan Desa Dalam Kaum, yang merupakan lalu lintas padat di Kota Sambas. Titik utama penggalangan dilakukan di Tugu Tabrani, yaitu simbol perlawanan masyarakat Sambas dalam merebut kemerdekaan dari tentara NICA.
“Hasil penggalangan dana ini akan disalurkan kepada pengungsi Rohingya. Aksi ini kami bagi menjadi tiga wilayah, selain di tugu tabrani, aksi serupa juga digelar di pasar Sambas, dan pertigaan Desa Dalam Kaum” tambah Eko.
Meski sempat diguyur hujan lebat, namun penggalangan dana tetap berjalan lancar.


Dalam aksi tersebut, salah seorang peserta aksi menegaskan bahwa tragedi yang menimpa muslim Rohingya, bukan hanya tragedi milik umat Islam saja, namun merupakan tragedi kemanusiaan untuk seluruh umat manusia di dunia yang memiliki hati nurani. “Tragedi yang menimpa Rohingya adalah sebuah kejahatan kemanusian yang merupakan tragedi kemanusiaan bagi seluruh umat manusia. Sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, pembantaian yang dilakukan Junta Militer Myanmar terhadap warga sipil Rohingya adalah sebuah kebiadaban yang harus dikecam dengan keras” tegasnya.


Sebagai mahasiswa, Eko berharap, melalui aksi penggalangan dana tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa dan masyarakat Sambas terhadap sesama. “Semoga dengan adanya kegiatan ini, dapat memotivasi dan menumbuhkan kepedulian masyarakat Sambas terhadap musibah yang menimpa sesama”, harapnya.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada seluruh masyarakat Sambas, pengurus mesjid, Polres, Polantas, wartawan, rekan-rekan mahasiswa, dan seluruh masyarakat Sambas yang telah berpartisipasi dalam kagiatan ini. HanyaAllah yang dapat membalas segala kebaikan”, ucap Eko di akhir aksi penggalangan dana tersebut. “Adapun total donasi yang terkumpul dalam aksi tersebut adalah sebanyak Rp 32.500.300,-. Donasi tersebut akan disalurkan melalui lembaga LazizMU, yaitu Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah” tambahnya.
Aksi kemanusiaan “Sejuta Doa untuk Rohingya” kemudian dilanjutkan dengan sholat shubuh dan membaca qunut nazilah berjamaah pada Sabtu, 09 September 2017 bersama masyarakat Kab. Sambas di Mesjid Raya Babul Jannah. Di akhir doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Bpk. Minhani, SE, selaku Ketua Umum PD Muhammadiyah Kab. Sambas, sebagai akhir dari kegiatan yang digelar sejak Hari Jumat tersebut.
-Reported by Lala, Kader HMI Cabang Sambas-

Sudah pantaskah kita disebut manusia?

- Thursday, 24 August 2017 No Comments
Rian, Komisariat Manajemen Informatika HMI Cabang Sambas
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau yang lebih di kenal sebagai Dr. Sam Ratulangi adalah seorang aktivis Kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sulawesi Utara. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan selain itu beliau juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional dengan Filsafatnya “Si tou timou tumou tou” yang mempunyai arti Manusia baru bisa dikatakan manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sungguh dalam makna yang tersirat dalam filsafatnya. Kita seringkali dengan tegasnya mengatakan ‘Kita adalah manusia’ ternyata kita masih keliru dalam menterjemahkan apa yang di maksud oleh Dr. Sam Ratulangi dalam filsafatnya. Yang kita lihat selama ini adalah anggota tubuh (tangan, kaki, kepala, mata, hidung, dan lainnya) bukan manusia. Lalu, yang dimaksud sebagai manusia itu apa? Manusia menurut si penulis adalah tentang akal dan pikiran.

Karna jika kita mendefinisikan manusia adalah kita yang mempunyai anggota tubuh lengkap, lalu? Mereka yang terlahir dengan (mohon maaf) cacat akan kita sebut apa selain manusia, cacat yang di maksud penulis adalah kurangnya salah satu anggota tubuh, misalkan seorang anak yang lahir ke dunia dalam kondisi tidak mempunyai jari tangan.

Kita (manusia) merupakan mahluk yang paling sempurna dari seluruh mahluk ciptaan-Nya. Sempurna yang dimaksud bukanlah dalam artian mempunyai anggota tubuh yang lengkap, melainkan diberikannya akal dan pikiran. Jika kita masih beranggapan sempurna itu karna mempunyai anggota tubuh yang lengkap maka kita (manusia) tidak jauh beda dengan hewan karena hewan pun mempunyai anggota tubuh yang lengkap. Iya, logikanya kira-kira seperti itu.

Sudah jelas mengenai definisi manusia? Lanjut ke fungsi diciptakannya manusia. Penulis tau dan kita semua tau jika alasan diciptakannya sesuatu pasti mempunyai tujuan/fungsi, sama halnya manusia. Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah ‘pemimpin’ dimuka bumi. Pemimpin untuk diri sendiri dan pemimpin bagi mereka yang menganggap dirinya adalah manusia.

Si penulis masih mengatakan ‘mereka yang menggap dirinya manusia’ itu, karena masih banyak didapati kriminal (kejahatan) yang tidak berperikemanusiaan, diantaranya adalah kasus pembunuhan, pemerkosaan dan masih banyak kejahatan lain yang berkaitan dengan manusia. Itu hanya beberapa dari sekian banyak kejahatan yang sejatinya tidak akan dilakukan oleh manusia dengan telah diberikannya akal dan pikiran oleh sang pencipta(Allah SWT).

Bahkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 dan 28 tentang Hak Asasi Manusia pun masih kurang efektif untuk menjadi batasan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Bukankah kita (manusia) mempunyai hak, hak untuk hidup sejahtera salah satunya.

Kemana perginya akal dan pikiran yang sudah diberikan kepada mereka, apakah sudah hilang atau justru masih ada namun dipergunakan untuk hal-hal yang tidak harus dilakukan layaknya seorang manusia? Kalau sudah hilang, siapa yang mengambil? Akal dan pikiran mereka diambil alih oleh nafsu. Iya nafsu, nafsulah yang sudah mengambil dan menguasai sifat kemanusiaan yang mereka miliki, dan bahkan melebihi nafsu (mohon maaf) seekor hewan. Mengapa si penulis mengatakan lebih lagi dari hewan, karena ‘kebanyakan’ hewan yang tidak mempunyai akal dan pikiran sekalipun tidak akan memangsa kawanannya.

Disinilah peran manusia sebagai khalifah ‘pemimpin’, pemimpin yang mempunyai akal dan pikiran inilah lah yang bertanggung jawab atas mereka untuk mengembalikan sifat kemanusiaan seorang manusia, sama halnya dengan filsafat dari Dr. Sam Ratulangi “Si tou timou tumou tou”. Dan jika kita mampu memanusiakan manusia maka disitulah kita baru pantas mendapat gelar manusia karena sudah berguna bagi manusia lain.

“Barang siapa melapangkan seorang mukmin dari suatu kesusahan didunia, Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan dihari kiamat. Barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaannya didunia dan diakhirat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib) nya didunia dan diakhirat. Allah akan menolong seorang Hamba selama Hamba itu mau menolong saudaranya.” (H. R. Muslim dari Abu Hurairah).

Lewat hadits tersebut dijelaskan sikap hidup yang harus selalu ditubuh kembangkan dalam hidup bermasyarakat yaitu kesediaan melapangkan kesusahan, meringankan beban penderitaan, menutupi aib saudaranya dan kesediaan untuk menolong sesama. Jika hal tersebut ditumbuh kembangkan dalam kehidupan dengan ikhlas, InsyaAllah akan mendapat balasan dari Allah yaitu kemudahan didunia dan diakhirat.

Kesimpulannya adalah jika kita mengaku sebagai manusia, maka bertindaklah layaknya seorang manusia yang mana adalah makhluk yang paling sempurna sekaligus khalifah dimuka bumi. Dengan akal dan pikiran yang kita miliki maka tidak sepantasnya lah kita tidak bisa menjadi sesuatu yang diharapkan masyarakat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lain.

Sekarang, apakah kita sudah pantas untuk disebut manusia? Mari kita untuk segera koreksi diri, karena jawaban sudah ada didalam diri kita masing-masing. Jika sudah menemukan jawaban, maka seharusnya sudah tau apa yang akan lakukan. Kita manusia? teruslah untuk memberikan kontribusi positif, dan jika belum silahkan mulai berfikir bagaimana cara untuk bisa disebut manusia. Tidak sulit untuk dapat dikatakan sebagai manusia, cukup dengan kita memberi manfaat/kontribusi positif untuk manusia lain 'masyarakat'.

Penulis: Rian

HMI Cabang Sambas Desak PEMDA Segera Ambil Kebijakan

- Wednesday, 9 August 2017 No Comments
Ahmad Fauzi Wasekum Kabid PAO HMI Cabang Sambas
Nasib kurang beruntung telah menimpa salah seorang TKW  bernama Nurhaye asal Desa Sarang Burung Besar Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Nurhaye yang mana bekerja sebagai asisten rumah tangga di Bintulu, Malaysia ini dianiaya oleh majikannya.

HMI CABANG SAMBAS melalui Wasekum Kabid Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) Ahmad Fauzi mendesak agar Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas untuk segera mengambil kebijakan untuk masalah ini. “Selain melanggar UU No 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, kasus penganiayaan ini juga sudah sangat keterlaluan”,ujar beliau saat ditemui. Rabu (9/8/2017) malam.

Lanjut Fauzi, dari permasalahan tersebut juga menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas untuk lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya dengan menciptakan lapangan pekerjaan ataupun pembinaan.

Dan untuk itu beliau juga menghimbau agar masyarakat Kabupaten Sambas untuk lebih menyiapkan bekal ilmu dan keahlian jika ingin bekerja diluar negeri, selain itu hal yang sangat penting adalah agar melengkapi dokumen-dokumen resmi untuk bekerja diluar Negeri.

Penulis : Rian

Memaknai gerakan moral, memaknai mahasiswa

- Sunday, 16 July 2017 No Comments

assets.kompas.com

Bicara tentang mahasiswa berarti berbicara tentang orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Tapi pemahaman tentang mahasiswa sejatinya tidaklah sesempit itu.

Mahasiswa adalah sebuah gelar yang bisa menjadi kebanggaan sekaligus tantangan. Mahasiswa adalah seorang yang memiliki ekspetasi dan tanggung jawab yang besar. Bukan hanya untuk dirinya namun juga untuk ikut berkontribusi langsung dalam setiap fenomena sosial yang ada.

Pertanyaannya sekarang ialah apakah masih bisa kita temukan mahasiswa yang mau berkontribusi untuk bangsa dan negaranya? Saya meragukan hal itu. Betapa tidak, mahasiswa yang sekarang cenderung mempunyai tujuan untuk kuliah cepat lulus dengan mengejar nilai IPK tinggi ditangan. Mereka cendrung berpikir praktis dan tidak mau berbelit. Kebanyakan memikirkan tentang hal-hal yang menyangkut kebutuhan pribadinya.

Jika kondisi mahasiswa sudah seperti ini maka tidak ada lagi yang akan mengawal kebijakan-kebijakan dari pemerintah kian lebih mementingkan kuantitas tanpa ada penyesuaian dengan norma yang ada. Bangunan pencakar langit bersebaran dimana-mana tapi sayangnya banyak sekali rakyat kecil yang menjadi korban dibalik megahnya bangunan yang berdiri.

Mengapa demikian? Jawaban hanya satu yaitu karena kurangnya kesadaran untuk melakukan gerakan moral oleh mahasiswa. Dan gerakan moral yang seharusnya didasari oleh semangat kebangsaan dan semangat keadilan sekarang musnah oleh ideologi partai tertentu yang masuk ke kampus-kampus.

Yang pada akhirnya, kekuatan mahasiswa yang sangat besar mudah dipolitisasi. Ditunggangi oleh suatu kepentingan tertentu. Mahasiswa kini cenderung pragmatis. Aksi mahasiswa sebagai gerakan moral semakin diragukan.

Visi dan misi gerakan mahasiswa harus diarahkan dan fokus pada fragmentasi proses perubahan sosial, politik dan ekonomi yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat. Apapun bentuk gerakannya, kebenaran dan kepentingan rakyat harus menjadi landasan dasar perjuangan mahasiswa. Gerakan mahasiswa juga harus kembali kepada khittahnya yaitu sebagai gerakan moral bukan gerakan politik praktis.

Penulis : Rian, Lapmi HmI Cabang Sambas

Ironis!!! Beasiswa Miskin Untuk Mereka Yang Kaya

- Tuesday, 11 July 2017 No Comments
Sumber gambar: satuharapan.com

Mahasiswa dalam menempuh belajarnya di kampus memerlukan beragam keperluan. Bagi sebagian mahasiswa itu mudah untuk dipenuhi tapi bagi sebagian mahasiswa lainnya sangat sulit untuk terpenuhi. Solusi untuk mahasiswa yang sulit, yaitu dengan memanfaatkan biaya bantuan pendidikan atau yang lazim disebut beasiswa. Beasiswa banyak bermunculan untuk membantu meringankan beban mahasiswa tersebut. Namun, banyak yang tak tepat sasaran. Kenapa tidak tepat sasaran? Yup, karena tidak semua mahasiswa kurang mampu yang ikut tapi mahasiswa mampu pun ikut daftar menjadi penerima beasiswa.

Apa yang menjadi sorotan saya selama proses seleksi beasiswa? Saya melihat hampir semua mahasiswa yang mengajukan permohonan beasiswa menggunakan smartphone bahkan ada yang membawa laptop !. Jika beasiswa ini ditujukan untuk kalangan yang tidak mampu saja, apakah pantas mereka yang mampu menerimanya? Selain itu, masih banyak kejanggalan dalam proses beasiswa, calon penerima dibantu orang dalam untuk memuluskan langkahnya menerima beasiswa.

Anda bayangkan saja? Sudah mereka kaya, atau kita katakanlah orang berada, masih mau mengambil yang bukan menjadi hak mereka, atau yang seharusnya menjadi hak orang miskin itu? Untuk itu, program beasiswa perlu dievaluasi secara komprehensif sasaran yang harus mendapat beasiswa. Jangan sampai beasiswa yang tadinya bertujuan untuk meringankan beban pelajar tidak mampu, malah beralih fungsi menjadi sumber foya-foya bagi kalangan mampu.

Pendidikan adalah sebuah usaha untuk mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Pendidikan harus mampu mengubah nasib seseorang bahkan memutus rantai kemiskinan. Oleh karena itu, patut menjadi perhatian kita karena pendidikan sejatinya bukan hanya untuk golongan mampu tetapi untuk semua orang.


Penulis: Rian, Lapmi HmI Cabang Sambas

Pancasila Adalah Harga Mati Bagi Bangsa Indonesia

- Wednesday, 31 May 2017 No Comments

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan segala keanekaragaman yang di milikinya. Keanekaragaman itu ibarat pedang bermata dua, di sisi satu merupakan sebuah anugerah kekayaan dan di sisi yang lain menyebabkan terjadinya rakyat yang terkotak-kotak.

Kemudian hadirlah sebuah gagasan yang di buat untuk dapat menjadi dasar pedoman dan pemersatu bagi bangsa ini dengan nama Pancasila yang di keluarkan oleh Presiden pertama RI Ir. Seokarno pada 1 juni 1945.

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negera Indonesia yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia (Wikipedia Indonesia). Pancasila juga merupakan konstitusi bagi bangsa Indonesia sebagai pengarah dan pengatur bagi rakyat di negeri yang beragam ini agar melakukan tindakan sesuai pada koridornya.

Tidak terasa tepat di tahun 2017 ini usia dari pancasila sudah menginjak 72 tahun. Betapa sudah tuanya umur pancasila saat ini, seperti juga kadangkalanya manusia ketika sudah menginjak usia 72 tahun pastinya sudah sangat renta dan tua, mempunyai banyak pengalaman dan banyak belajar dari sejarah masa lalu.

Dengan bertambahnya usia itu tentu perlu adanya koreksi kembali apakah Pancasila itu sudah di jalankan sesuai dengan pedoman dasarnya atau tidak sama sekali. Seharusnya dengan sudah semakin tuanya umur dari konstitusi itu tentu berarti dalam pengamalannya sudah sempurna pula.

Melihat kondisi Indonesia saat ini justru berbanding terbalik dan miris sekali. Pancasila yang pada dulunya di jadikan sebagai pedoman dasar bagi bangsa Indonesia tapi justru pada saat ini seakan-akan tidak diakui keberadaannya. Pancasila hanya di jadikan sebagai bentuk payung hukum formalitas atau simbolitas semata serta tidak di amalkan dan tidak terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh rakyat Indonesia.

Apalagi yang terjadi saat ini adalah justru para penguasa yang melanggarnya baik itu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mereka yang seharusnya menjadi contoh panutan bagi rakyat tapi justru malah mereka yang melanggar konstutusi yang sudah di sepakati bersama oleh para pendiri negeri kita dahulu.

Di Indonesia saat ini terus terjadi peningkatan untuk kasus korupsi, pencucian uang, suap menyuap serta banyak bentuk ketidakadilan lainnya yang di lakukan oleh para penjabat negara(CNN Indonesia). Hal demikian tentu menjadi sebuah kekecewaan bagi rakyat Indonesia.

Semua itu pun kian membuat rakyat Indonesia menjadi muak dengan kebusukan dan ketidakadilan yang di lakukan oleh para penguasa di negeri ini. Yang pada akhirnya kekecewaan itu pun di tuangakan oleh rakyat dengan keinginan membuat haluan dan sistem dasar negara baru yang mereka anggap benar.

Seperti pada saat ini banyak kita dengar isu-isu akan di didirikannya negara berbentuk Khilafah, negara bersistemkan Islam, serta pendirian bentuk negara sendiri lainnya oleh kelompok-kelompok tertentu. Kelompok-kelompok tersebut merasa di kecewakan oleh kebijakan pemerintah dan ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesai(NKRI).

Hal ini tentu merupakan salah satu bentuk penyelewengan dari nilai dasar Pancasila. Tapi sebetulnya kita sebagai rakyat Indonesia juga tidak bisa langsung menyalahkan kelompok-kelompok tersebut ataupun terpengaruh dengan isu tersebut. Kita juga seharusnya dapat melihat dan paham dengan sistem dan permainan politik yang para penguasa mainkan saat ini untuk melanggengkan kekuasaanya.

Di sini penulis juga bukan berarti membenarkan kelompok-kelompok radikal itu tetapi disini penulis mengajak pembaca untuk bisa kembali membuka mata dan pikiran, melihat media informasi saat ini yang juga kian tidak dapat bisa dipegang kebenarannya.

Penyelewengan pancasila seperti itu memang tidak bisa di hindarkan lagi bagi bangsa Indonesia bahkan mungkin memang sudah menjadi budaya di negeri ini. Melihat kejadian penyelewengan Pancasila yang di lakukan oleh penguasa pada orde lama dan orde baru lalu memang masih menyisakan bekas luka tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Apalagi ditambah dengan adanya indikasi tindakan penguasa yang di anggap tidak adil dan bertindak diskriminisasi dalam hal pembangunan sehingga muncul kelompok-kelompok radikal tersebut yang memang merasa di kecewakan oleh kebijakan pemerintah.

Seperti yang di paparkan oleh penulis sebelumnya, kekayaan dan keanekaragaman indonesia ini adalah pedang bermata dua yang juga jika tidak dapat di kontrol akan menyebabkan kehancuran dan juga perpecahan bagi bangsa Indonesia.

Melihat kondisi seperti itu jika hal tersebut terus di biarkan maka akan terus muncul kelompok-kelompok baru yang juga akan membuat sebuah paham dan haluan sistem negera yang mereka anggap benar. Yang pada akhirnya perlahan-lahan pedoman dan dasar awal negeri ini pun mulai di tinggalkan.

Pancasila hanya akan di anggap sejarah dan kenangan belaka bagi bangsa Indonesia. Kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia pun semakin tak terarah karena sudah masing-masing mementingkan kepentingan kelompoknya dan dirinya sendiri. Indonesia akan menjadi negara yang liberal, tidak beraturan, tidak beretika dan di penuhi dengan para pemberontak.

Dengan demikian sangat di perlukan revitalisasi penanaman kembali nilai-nilai pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia.

Di mulai dengan penerapan yang harus di lakukan oleh penguasa bangsa Indonesia itu sendiri yaitu dengan bersikap adil, jujur, menerima kekalahan, mengutamakan musyawarah untuk mufakat, mematuhi hukum yang berlaku, toleransi, saling menghormati, kesederhanaan, serta aji ampung(menjadi panutan dan contoh rakyat)agar rakyat pun menjadi percaya kepada penguasa di negeri ini. Yang kemudian di lakukan dengan pemberian paham kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa sesungguhnya Indonesia itu adalah satu kesatuan, Indonesia itu tidak membeda-bedakan, serta Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia.

Karena sesungguhnya kita semua sebagai rakyat Indonesia itu harus paham bahwa sebetulnya Pancasila adalah harga mati bagi bangsa Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa terciptanya negeri ini adalah akibat adanya persatuan oleh suku, agama, ras dan golongan yang meskipun berbeda-beda.

Pancasila tidak boleh hilang dalam diri bangsa Indonesia karena Pancasila merupakan akar yang menjadi kekuatan bagi terbentuknya bangsa Indonesia. Pancasila juga harus menjadi darah yang yang harus terus mengalir dalam diri seluruh rakyat indonesia untuk dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga pada akhirnya akan terciptakanlah cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia yang akan membawa Indonesia kepada kemajuan, serta terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Aksi Terorisme Kian Menghawatirkan Masyarakat

- Saturday, 27 May 2017 No Comments


Teror bom kembali melanda Negeri kita yang terjadi di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, Rabu malam 24/5/2017 yang mengakibatkan 3 anggota polri gugur dan 2 yang diduga pelaku pengeboman tewas, 10 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian yang terjadi saat 2 hari menjelang bulan suci Ramadhan tersebut sangat memperihatinkan dan wajib untuk kita kecam karena telah meneror rasa aman dan ketentraman warga.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ciri-ciri terorisme terkini beberapa diantaranya adalah menebar syi'ar kebencian pada agama/kelompok tertentu, antiPersatuan dan anti-Pancasila.( Sumber : detik.com )

Lalu apakah kita akan terus menerus hidup dibawah jajahan terorisme? Apa tindakan pemerintah untuk memberantas terorisme?
Kemungkinan untuk memberantas terorisme adalah sangat kecil karena Undang-Undang tentang tindak pidana terorisme masih bersinggungan dengan HAM. Masyarakat mendapatkan rasa aman dan tentram dengan adanya HAM, tapi dibalik semua itu ada tindak kejahatan yang berlindung salah satunya adalah para pelaku teror ini yang mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat.

Menko Polhukam - Wiranto "pada Bulan 10 Tahun 2016 telah mengusulkan untuk merevisi UU tentang tindak pidana terorisme pada DPR tapi masih belum ada kepastian", ungkapnya saat melakukan konferensi pers di iNews TV. Jum'at sore 26/5/2017.

Jakarata, KOMPAS.com - Panitia Khusus Rancangan UU Nomor 15 Tahun 2015 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Anti-terorisme) mengeluhkan pihak pemerintah yang seolah-olah mendunda atau mengulur proses pembahasan dengan tidak hadir pada rapat yang dijadwalkan oleh pihak pemerinrah sendiri.

UU tentang Tindak Pidana Korupsi ini memang harus segera untuk direvisi agar lebih keras dan tegas lagi dalam menyikapi para pelaku teror agar aksi terorisme yang kian meresahkan dapat diberantas. Dan untuk langkah awal pemberantasan terorisme itu salah satunya adalah dengan perlunya payung UU yang keras dan tegas.

Oleh: Rian, Lapmi HmI Cabang Sambas

Mahasiswa Harus Segera Kembali ke Fitrahnya

- Tuesday, 16 May 2017 No Comments

Banyaknya perguruan tinggi yang berdiri megah menjulang langit tidak menjadi jaminan kalau mahasiswa didalamnya terdidik. Banyaknya perguruan tinggi hanya sebagai kuantitas, dan bangunan megah menjulang langit tidak akan bermakna tanpa ada kualitas dari mahasiswa didalamnya.

Sungguh miris kondisi mahasiswa sekarang yang kurang memahami akan fitrahnya sebagai mahasiswa. Agent of change dan agent of control yang disematkan kepada mahasiswa seakan-akan hanya menjadi simbol tanpa makna.

"Mahasiswa sekarang kebanyakan mereka tidak berfikir bagaimana kewajiban dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Mayoritas mahasiswa sekarang selalu mengutamakan kepentingan dan kesenangan mereka sendiri dibanding dengan kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa". ( sumber: m.kompasiana.com/fadjarhadi )

Apa solusi untuk hal tersebut? "Kepentingan pribadi memang perlu difikirkan tapi kepentingan bersama harus menjadi yang utama"ungkap Ruslan, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Sambas.

Mahasiswa harus segera kembali ke fitrahnya sebagai agent of change dan agent of control.
Mahasiswa adalah sosok yang akan melanjutkan estafet pemerintahan yang nantinya akan menjadi harapan masyarakat indonesia.

Oleh: Rian, LAPMI HMI Cabang Sambas

.