HmI News

Latest Posts

Pancasila Adalah Harga Mati Bagi Bangsa Indonesia

- Wednesday, 31 May 2017 No Comments

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan segala keanekaragaman yang di milikinya. Keanekaragaman itu ibarat pedang bermata dua, di sisi satu merupakan sebuah anugerah kekayaan dan di sisi yang lain menyebabkan terjadinya rakyat yang terkotak-kotak.

Kemudian hadirlah sebuah gagasan yang di buat untuk dapat menjadi dasar pedoman dan pemersatu bagi bangsa ini dengan nama Pancasila yang di keluarkan oleh Presiden pertama RI Ir. Seokarno pada 1 juni 1945.

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negera Indonesia yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia (Wikipedia Indonesia). Pancasila juga merupakan konstitusi bagi bangsa Indonesia sebagai pengarah dan pengatur bagi rakyat di negeri yang beragam ini agar melakukan tindakan sesuai pada koridornya.

Tidak terasa tepat di tahun 2017 ini usia dari pancasila sudah menginjak 72 tahun. Betapa sudah tuanya umur pancasila saat ini, seperti juga kadangkalanya manusia ketika sudah menginjak usia 72 tahun pastinya sudah sangat renta dan tua, mempunyai banyak pengalaman dan banyak belajar dari sejarah masa lalu.

Dengan bertambahnya usia itu tentu perlu adanya koreksi kembali apakah Pancasila itu sudah di jalankan sesuai dengan pedoman dasarnya atau tidak sama sekali. Seharusnya dengan sudah semakin tuanya umur dari konstitusi itu tentu berarti dalam pengamalannya sudah sempurna pula.

Melihat kondisi Indonesia saat ini justru berbanding terbalik dan miris sekali. Pancasila yang pada dulunya di jadikan sebagai pedoman dasar bagi bangsa Indonesia tapi justru pada saat ini seakan-akan tidak diakui keberadaannya. Pancasila hanya di jadikan sebagai bentuk payung hukum formalitas atau simbolitas semata serta tidak di amalkan dan tidak terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh rakyat Indonesia.

Apalagi yang terjadi saat ini adalah justru para penguasa yang melanggarnya baik itu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mereka yang seharusnya menjadi contoh panutan bagi rakyat tapi justru malah mereka yang melanggar konstutusi yang sudah di sepakati bersama oleh para pendiri negeri kita dahulu.

Di Indonesia saat ini terus terjadi peningkatan untuk kasus korupsi, pencucian uang, suap menyuap serta banyak bentuk ketidakadilan lainnya yang di lakukan oleh para penjabat negara(CNN Indonesia). Hal demikian tentu menjadi sebuah kekecewaan bagi rakyat Indonesia.

Semua itu pun kian membuat rakyat Indonesia menjadi muak dengan kebusukan dan ketidakadilan yang di lakukan oleh para penguasa di negeri ini. Yang pada akhirnya kekecewaan itu pun di tuangakan oleh rakyat dengan keinginan membuat haluan dan sistem dasar negara baru yang mereka anggap benar.

Seperti pada saat ini banyak kita dengar isu-isu akan di didirikannya negara berbentuk Khilafah, negara bersistemkan Islam, serta pendirian bentuk negara sendiri lainnya oleh kelompok-kelompok tertentu. Kelompok-kelompok tersebut merasa di kecewakan oleh kebijakan pemerintah dan ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesai(NKRI).

Hal ini tentu merupakan salah satu bentuk penyelewengan dari nilai dasar Pancasila. Tapi sebetulnya kita sebagai rakyat Indonesia juga tidak bisa langsung menyalahkan kelompok-kelompok tersebut ataupun terpengaruh dengan isu tersebut. Kita juga seharusnya dapat melihat dan paham dengan sistem dan permainan politik yang para penguasa mainkan saat ini untuk melanggengkan kekuasaanya.

Di sini penulis juga bukan berarti membenarkan kelompok-kelompok radikal itu tetapi disini penulis mengajak pembaca untuk bisa kembali membuka mata dan pikiran, melihat media informasi saat ini yang juga kian tidak dapat bisa dipegang kebenarannya.

Penyelewengan pancasila seperti itu memang tidak bisa di hindarkan lagi bagi bangsa Indonesia bahkan mungkin memang sudah menjadi budaya di negeri ini. Melihat kejadian penyelewengan Pancasila yang di lakukan oleh penguasa pada orde lama dan orde baru lalu memang masih menyisakan bekas luka tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Apalagi ditambah dengan adanya indikasi tindakan penguasa yang di anggap tidak adil dan bertindak diskriminisasi dalam hal pembangunan sehingga muncul kelompok-kelompok radikal tersebut yang memang merasa di kecewakan oleh kebijakan pemerintah.

Seperti yang di paparkan oleh penulis sebelumnya, kekayaan dan keanekaragaman indonesia ini adalah pedang bermata dua yang juga jika tidak dapat di kontrol akan menyebabkan kehancuran dan juga perpecahan bagi bangsa Indonesia.

Melihat kondisi seperti itu jika hal tersebut terus di biarkan maka akan terus muncul kelompok-kelompok baru yang juga akan membuat sebuah paham dan haluan sistem negera yang mereka anggap benar. Yang pada akhirnya perlahan-lahan pedoman dan dasar awal negeri ini pun mulai di tinggalkan.

Pancasila hanya akan di anggap sejarah dan kenangan belaka bagi bangsa Indonesia. Kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia pun semakin tak terarah karena sudah masing-masing mementingkan kepentingan kelompoknya dan dirinya sendiri. Indonesia akan menjadi negara yang liberal, tidak beraturan, tidak beretika dan di penuhi dengan para pemberontak.

Dengan demikian sangat di perlukan revitalisasi penanaman kembali nilai-nilai pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia.

Di mulai dengan penerapan yang harus di lakukan oleh penguasa bangsa Indonesia itu sendiri yaitu dengan bersikap adil, jujur, menerima kekalahan, mengutamakan musyawarah untuk mufakat, mematuhi hukum yang berlaku, toleransi, saling menghormati, kesederhanaan, serta aji ampung(menjadi panutan dan contoh rakyat)agar rakyat pun menjadi percaya kepada penguasa di negeri ini. Yang kemudian di lakukan dengan pemberian paham kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa sesungguhnya Indonesia itu adalah satu kesatuan, Indonesia itu tidak membeda-bedakan, serta Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia.

Karena sesungguhnya kita semua sebagai rakyat Indonesia itu harus paham bahwa sebetulnya Pancasila adalah harga mati bagi bangsa Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa terciptanya negeri ini adalah akibat adanya persatuan oleh suku, agama, ras dan golongan yang meskipun berbeda-beda.

Pancasila tidak boleh hilang dalam diri bangsa Indonesia karena Pancasila merupakan akar yang menjadi kekuatan bagi terbentuknya bangsa Indonesia. Pancasila juga harus menjadi darah yang yang harus terus mengalir dalam diri seluruh rakyat indonesia untuk dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga pada akhirnya akan terciptakanlah cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia yang akan membawa Indonesia kepada kemajuan, serta terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Aksi Terorisme Kian Menghawatirkan Masyarakat

- Saturday, 27 May 2017 No Comments


Teror bom kembali melanda Negeri kita yang terjadi di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, Rabu malam 24/5/2017 yang mengakibatkan 3 anggota polri gugur dan 2 yang diduga pelaku pengeboman tewas, 10 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian yang terjadi saat 2 hari menjelang bulan suci Ramadhan tersebut sangat memperihatinkan dan wajib untuk kita kecam karena telah meneror rasa aman dan ketentraman warga.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ciri-ciri terorisme terkini beberapa diantaranya adalah menebar syi'ar kebencian pada agama/kelompok tertentu, antiPersatuan dan anti-Pancasila.( Sumber : detik.com )

Lalu apakah kita akan terus menerus hidup dibawah jajahan terorisme? Apa tindakan pemerintah untuk memberantas terorisme?
Kemungkinan untuk memberantas terorisme adalah sangat kecil karena Undang-Undang tentang tindak pidana terorisme masih bersinggungan dengan HAM. Masyarakat mendapatkan rasa aman dan tentram dengan adanya HAM, tapi dibalik semua itu ada tindak kejahatan yang berlindung salah satunya adalah para pelaku teror ini yang mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat.

Menko Polhukam - Wiranto "pada Bulan 10 Tahun 2016 telah mengusulkan untuk merevisi UU tentang tindak pidana terorisme pada DPR tapi masih belum ada kepastian", ungkapnya saat melakukan konferensi pers di iNews TV. Jum'at sore 26/5/2017.

Jakarata, KOMPAS.com - Panitia Khusus Rancangan UU Nomor 15 Tahun 2015 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Anti-terorisme) mengeluhkan pihak pemerintah yang seolah-olah mendunda atau mengulur proses pembahasan dengan tidak hadir pada rapat yang dijadwalkan oleh pihak pemerinrah sendiri.

UU tentang Tindak Pidana Korupsi ini memang harus segera untuk direvisi agar lebih keras dan tegas lagi dalam menyikapi para pelaku teror agar aksi terorisme yang kian meresahkan dapat diberantas. Dan untuk langkah awal pemberantasan terorisme itu salah satunya adalah dengan perlunya payung UU yang keras dan tegas.

Oleh: Rian, Lapmi HmI Cabang Sambas

Mahasiswa Harus Segera Kembali ke Fitrahnya

- Tuesday, 16 May 2017 No Comments

Banyaknya perguruan tinggi yang berdiri megah menjulang langit tidak menjadi jaminan kalau mahasiswa didalamnya terdidik. Banyaknya perguruan tinggi hanya sebagai kuantitas, dan bangunan megah menjulang langit tidak akan bermakna tanpa ada kualitas dari mahasiswa didalamnya.

Sungguh miris kondisi mahasiswa sekarang yang kurang memahami akan fitrahnya sebagai mahasiswa. Agent of change dan agent of control yang disematkan kepada mahasiswa seakan-akan hanya menjadi simbol tanpa makna.

"Mahasiswa sekarang kebanyakan mereka tidak berfikir bagaimana kewajiban dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Mayoritas mahasiswa sekarang selalu mengutamakan kepentingan dan kesenangan mereka sendiri dibanding dengan kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa". ( sumber: m.kompasiana.com/fadjarhadi )

Apa solusi untuk hal tersebut? "Kepentingan pribadi memang perlu difikirkan tapi kepentingan bersama harus menjadi yang utama"ungkap Ruslan, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Sambas.

Mahasiswa harus segera kembali ke fitrahnya sebagai agent of change dan agent of control.
Mahasiswa adalah sosok yang akan melanjutkan estafet pemerintahan yang nantinya akan menjadi harapan masyarakat indonesia.

Oleh: Rian, LAPMI HMI Cabang Sambas

Kabid PPD HMI Cabang Sambas Dukung Pemerintah Daerah Membangun Minat Baca Masyarakat

- No Comments



Sambas (15/05/17). Kabid PPD HMI Cabang Sambas dukung Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas bangun minat baca masyarakat. Melihat minat baca di Sambas sekarang khususnya Pemuda, Siswa dan Mahasiswa serta masysarakat Sambas masih kurang maka perlu adanya dukungan pemerintah dalam membangun minat baca masyarakat.
Ruslan, salah satu Pengurus Cabang HMI Cabang Sambas Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah mengatakan bahwa dipandang perlu dukungan pemerintah daerah untuk bangun minat baca masyarakat dimulai dari mahasiswa, siswa, dan pemuda serta masyarakat Sambas. Selain pemerintah daerah HMI sebagai organisasi yang mengabdi kepada agama Islam dan Negara Indonesia juga perlu mendukung pemerintah dalam membangun minat baca masyarakat.
“Menurut saya pemerintah daerah harus mendukung bagaimana membangun minat baca masyarakat sekarang, tidak hanya pada slogan tapi juga pada fasilitasnya, dan juga khususnya kami dari HMI juga sangat mendukung dan siap membantu Pemerintah Daerah dalam membangun minat baca masyarakat Sambas “, ungkapnya.
Menurutnya selain pemerintah mengajak masyarakat untuk membaca melalui media  saja belum cukup, tapi perlu juga di dukung dari fasilitas untuk membaca. Misalnya dibangun Perpustakaan Desa agar masyarakat lebih mudah mendapatkan fasilitas untuk membaca buku dengan referensi yang lebih banyak.
“Saya rasa juga perlu dibangun Perpustakaan Desa disetiap Desa di Kabupaten Sambas, agar lebih terjangkau oleh seluruh masyarakat Kabupaten Sambas “, Ujarnya.
Selain itu juga HMI Cabang Sambas juga turut membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas dalam membangun minat baca masyarakat dengan adanya Gerakan Sambas Membaca yang dimotori oleh kader Hmi Cabang Sambas.
“HMI Cabang Sambas juga turut membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas dalam membangun minat baca masyarakat Sambas dengan adanya satu Komunitas Gerakan Membaca yang dimotori oleh Kader-kader HMI Cabang Sambas ”, jelasnya.

Citizen jurnalis : Ahmad Fauzi

Mengapa Kader Kader HMI Begitu Bangga dengan Organisasinya??

- Monday, 15 May 2017 No Comments

Karena di HMI anak-anak tokoh Masyumi bisa duduk manis dengan anak-anak tokoh NU

Karena di HMI anak-anak Tokoh Muhammadiyah bisa berpelukan dengan anak-anak tokoh NU dan organisasi Islam lainya bahkan dengan anak-anak tokoh Nasionalis sekalipun

Karena di HMI hal-hal kecil bersifat Furuiyah di abaikan demi sesuatu yang besar yaitu Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah wathoniyah

Karena di HMI anak-anak keturunan Muhammadiyah, NU, PERSIS, Al Irsyad dll bisa sholat jamaah secara bersama

Karena di HMI adalah pencerminan Islam Mini Indonesia

Karena di HMI anak-anak dari orang tua yang ideologinya berbeda bisa duduk bareng diskusi dengan damai

Karena di HMI kami diajarkan bagaimana membangun negara ini dengan cara yang benar

Karena di HMi kami diajarkan menghargai Pluralisme dan kebhinekaan

Karena di HMI kami diajarkan bahwa generasi muda Islam, generasi muda Kristen, Generasi muda Hindu dll semuanya merupakan kader-kader bangsa yang harus saling membangun komunikasi untuk membangun bangsa ini

Karena di HMI para aktivis bisa bebas ngomong dan diskusi tentang apa saja termasuk ngomong tentang Ateisme dan ideologi lainnya sebagai ilmu

Karena di HMi tidak ada kultus Individu,Prof Lafran Pane, Nurcholis Madjid dan Akbar tanjung pun bisa dibantah

Karena di HMI kami tidak diajarkan untuk taqlid dalam menerima pendapat seseorang
di HMI kami diajarkan setelah menjadi alumni anda boleh berkiprah dibidang kehidupan apa saja, di partai politik apa saja asalkan tetap memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Karena di HMI tidak ada kata saling mengkafirkan

Karena di HMI kekuatan intelektual menjadi rujukan utama

Karena di HMI ada hubungan emosional Ideologis sangat dekat antara sesama anggota atau antara Junior dengan senior walaupun mereka dipisahkan oleh jarak waktu

Karena di HMI silaturahmi tidak pernah putus

Karena di HMI kami tidak diajarkan berpikir secara primordial

Karena di HMI kami diajarkan komitmen kebangsaan tidak akan menafikan komitmen keberislamanan begitu pula sebaliknya komitmen keberislaman tidak akan menafikan komitmen kebangsaan

Karena Di HMI kami diajarkan berpikir secara kosmopolitan bukan sekedar sektoral
Dan terakhir paling penting di HMi kami diajarkan hanya takut kepada Allah yang lainnya adalah makhluk Allah.

Prinsip-prinsip inilah membuat HMI tidak pernah lapuk kena hujan dan tidak pernah lekang kena panas.

Oleh : Mahyudin Rumata (Ketua PB HMI Bidang Agraria dan Maritim)

#BetaHMI

HMI Persiapan Syariah Siapkan Kader Pembawa Perubahan di Era Globalisasi

- Saturday, 13 May 2017 No Comments

Komisariat Persiapan Syariah HMI Cabang Sambas adakan Latihan Kader I. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Badan Kepegawaian Daerah(BKD) Kabupaten Sambas selama tiga hari dri tanggal 12-14 Mei 2017. Sambas(12/05/2017)

Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah sebanyak 8 orang yang tergabung dari Kampus Institut Agama Islama Sultan Muhammad Syafiudin Sambas (IAIS) dan Politeknik Negeri Sambas. Sambas(12/05/2017).

"Penanaman Nilai Nilai ke-HMI-an demi Terwujudnya Karakter Kader yang Berintelektual dan Semangat Berjuang di Era Globalisasi" merupakan tema yang di usung dalam kegiatan itu.

Ketua Panitia berharap agar kegiatan tersebut berjalan sebagaimana mestinya lancar dan sesuai dengan harapan serta terwujudnya tema tersebut agar tertanam dalam diri seorang kader.

"Kami panitia akan berusaha semaksimal mungkin demi kelancaran acaranya dan berharapa agar terwujudnya tema yang di usung ini dan tertanam dalam diri bakal calon kader-kader baru ini" ujar Uul Arta selaku ketua panitia.

"Bung Karno mengatakan 5 orang pemuda bisa mengguncang dunia, jadi apalagi kalian ini yang 8 orang pasti bisa melakukan lebih dari itu, maka itu lakukanlah yang terbaik setelah latihan kader ini." ujar misbun Ketua Umum HMI Cabang Sambas dalam sambutannya.

Misni Safari selaku wakil ketua DPRD sekaligus Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) MD Sambas juga hadir pada kesempatan kali itu sekaligus membuka acara kegiatan Latihan Kader I HMI Komisariat Persiapan Syariah.

"Selamat datang dan berproses di HMI. Saya juga berawal dari HMI hingga jadi saat sekarang ini" ujarnya dalam sambutan di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sambas.

Seorang kader HMI harus bisa membawa dan memberikan perubahan tersendiri terutama untuk dirinya sendiri dan perubahan bagi daerah untuk kedepannya.

"Saya berharap bakal calon kader-kader HMI ini nantinya setelah LK akan membawa perubahan terutama bagi dirinya sendiri dan kedepan nantinya kalian harus berusaha membawa perubahan untuk daerah kita ini" jelas Wakil Ketua DPRD Sambas itu.

Misni safari juga berhatap kader HMI yang telah lulus LK haruslah mengikuti tatanan agama dan menjalankan syariat agama juga agar terwujudnya kader dengan harapan yang benar-benar berkualitas.

"Selaku kader mahasiswa Islam janganlah lupa untuk menjalankan tatanan dan syariat-syariat Islam agar nantinya benar-benar lahir kader HMI yang berkualitas baik dari sisi intelektual maupun imannya" tutupnya.

Report by Pahmi Ardi, Lembaga Pers HMI Cabang Sambas

Filsafat Ampuh Tingkatkan Nilai Matematika dan Literasi Anak

- Saturday, 22 April 2017 No Comments

Filsuf dan anak-anak sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang besar. Jika sikap ini difasilitasi lewat kelas filsafat yang memadai dan tepat, prestasi si anak di bidang matematika, sains, maupun sastra akan meningkat.

Hidup Sofie Admundsen, perempuan 14 tahun asal Norwegia, awalnya biasa-biasa saja. Namun segalanya berubah sejak ia menerima pesan misterius di kotak posnya. berisi dua buah pertanyaan yang tak pernah ia dapat sebelumnya, “Siapakah dirimu? Dari mana asalnya dunia?”. 

Tak lama kemudian ia pun menjadi murid dari seorang filsuf berusia kepala lima, Alberto Knox. Barangkali tantangan terbesar Knox adalah membincangkan seluruh pelajarannya dengan sederhana untuk menghindari pemahaman orang awam tentang filsafat itu sendiri: bidang keilmuan yang dikenal teramat kompleks dan bikin pusing kepala. 

Beruntung, Knox mampu mengatasi tantangan ini di sepanjang kebersamaannya dengan Sofie dalam novel terkenal karya Jostein Gaardner, Dunia Sofie. 

Satu dari sekian banyak dialog yang bermutu dan yang menjadi kekuatan novel ini adalah saat Knox menganalogikan filsuf dengan anak kecil. Dunia dan seisinya, menurut anak-anak, adalah sesuatu yang baru sehingga memunculkan perasaan takjub dan heran. 

Hal ini, bagi Knox, tak berlaku bagi orang dewasa sebab orang dewasa telah menerima dunia apa adanya, sebagai hal yang biasa. Filsuf adalah pengecualian sebab filsuf tak pernah merasa cukup dengan dunia ini. Baginya dunia terus untuk nampak sedikit tak masuk akal, membingungkan, bahkan misterius. 

“Untuk itulah filsuf dan anak-anak memiliki kesamaan penting. Dalam memandang dunia, modal mereka hanyalah satu: sikap ingin tahu.” 

Berangkat dari pemahaman serupa, para ahli pendidikan di dunia telah sejak lama berusaha untuk mengembangkan model pengajaran filsafat bagi anak-anak di bangku sekolah. Tantangan mereka serupa dengan yang dihadapi Knox, yakni bagaimana kompleksitas filsafat sebagai induk dari segala ilmu bisa diajarkan dalam formula yang sesuai bagi para peserta didik. Sifat keingintahuan yang besar dari anak-anak, bagi para ahli, adalah modal yang tak boleh dilewatkan begitu saja. 

Usaha ini pernah dilaksanakan oleh lembaga swadaya masyarakat asal Inggris, Education Endowment Foundation (EFF). Lembaga ini dikenal sebagai lembaga yang konsisten dalam mengembangkan model pendidikan yang bisa mengurangi kesenjangan antara prestasi belajar dan latar belakang ekonomi keluarga. 

Baru-baru ini, melalui kanal Quartz Media, mereka mempulikasikan penelitian tentang manfaat dari menyisipkan pembelajaran filsafat kepada anak-anak yang dilaksanakan pada tahun 2015. Repondennya adalah 3.000 lebih anak-anak usia 9-10 tahun di Inggris Raya dan berasal dari 48 sekolah. 

Satu kelompok besar yang terdiri dari 22 sekolah bertindak sebagai kelompok kontrol. Anak-anak dari 26 sekolah lainnya diminta untuk mengikuti kelas filsafat yang diadakan satu kali per minggu selama 40 menit. Di dalam kelas, mereka belajar berdiskusi dan menambah pengetahuan serta perspektif tentang konsep kebenaran, keadilan, dan pertemanan. 

Segalanya berlangsung secara sederhana dan bermula dari keingintahuan si anak. Mereka juga dilatih untuk membuat dan mengungkapkan pertanyaan lalu menimpali ide atau pemikiran teman lain hingga menjadi diskusi besar. Saat kembali ke kelas, peneliti akan mencatat raihan nilai mereka di beberapa mata pelajaran. Totalnya dipakai untuk membandingkan antara pencapaian anak-anak di sekolah dengan kelas filsafat dan yang tidak. 

Hasilnya, anak-anak yang mengikuti kelas filsafat jauh lebih unggul dalam mata pelajaran matematika dan literasi. Lebih rinci lagi, nilai matematika dan membaca mereka meningkat, setara dua bulan kelas tambahan pada dua mata pelajaran tersebut. Hasil ini agak mengejutkan, sebab sesungguhnya penelitian EEF ini tak didesain untuk meningkatkan pencapaian nilai siswa dalam berhitung maupun kaitannya dengan bahasa. 

Anak-anak dari latar belakang ekonomi dan sosial yang kurang beruntung, tapi menjadi peserta kelas filsafat mingguan juga mendapat manfaat yang jauh lebih besar dalam performa belajar mereka: kemampuan membaca meningkat setara dengan empat bulan kelas tambahan, kemampuan berhitung meningkat setara dengan tiga bulan kelas tambahan, dan kemampuan menulis setara dengan dua bulan kelas tambahan. 

Para guru juga dilaporkan terkena dampak positif dari riset ini sebab tingkat kepercayaan diri anak-anak di kelas selama pelajaran berlangsung meningkat tajam. Mereka yang dulunya cenderung pasif dan malu-malu kini tak malu untuk mengeluarkan pendapatnya maupun bertanya tentang segala hal yang mengusik benak mereka. Selain lebih cerewet dan kelas lebih ramai, kemampuan dan kemauan anak-anak dalam mendengarkan pendapat atau sekedar obrolan temannya juga meningkat. 

Kevan Collins, kepala riset EEF, menambahkan bahwa manfaat ini bisa awet hingga dua tahun berselang, terbukti dengan kelompok yang mengikuti kelas filsafat terus-menerus menghasilkan nilai ujian yang mengungguli kelompok kontrol bahkan setelah semester berakhir. 

“Mereka telah mempelajari cara baru dalam berpikir dan mengekspresikan diri. Mereka berfikir dengan lebih logis dan lebih banyak ide yang terhubung satu sama lainnya,” kata Collins kepada Quartz. 

Inggris bukan satu-satunya negara yang bereksperimen mengajari anak-anak filsafat. Dalam riset kali ini EEF menggunakan program bernama P4C (Philosophy for Children) yang diciptakan oleh Profesor Matthew Lippman di New Jersey pada 1970an. Program ini masuk dalam Society for the Advacement of Philosophical Enquiry and Reflection in Education (SAPERE) yang sejak 1992 diberlakukan di Inggris. Hingga saat ini program SAPERE telah diadopsi oleh sekolah-sekolah di 60-an negara di dunia. 

SAPERE dikenal efektif dalam memancing jiwa kritis siswa dan membekalinya modal yang baik untuk segala macam pelajaran, termasuk matematika, sains, dan sastra. Namun SAPERE juga bukan mata kuliah ala orang dewasa yang membawakan teks-teks filsuf terkenal dari Sokrates, Plato, atau Imanuel Kant, melainkan mengadopsinya ke dalam cerita, puisi, atau klip film yang mampu memicu diskusi berkaitan dengan isu-isu filsafat. 

Tujuannya agar anak-anak mampu berfikir logis, membuat dan melancarkan pertanyaan, berbincang secara konstruktif, dan membangun argumen dengan baik. 

Kejam itu Membunuh Rasa Ingin Tahu Anak

Mata kuliah filsafat di Indonesia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain di dunia rata-rata dikenalkan pada bangku kuliah, sementara di Eropa sudah dikenalkan sejak bangku sekolah menengah atas. Ini data lebih dari satu dekade lalu. Dalam catatan Stanford Encyclopedia of Philosophy, kini situasinya lebih cair, walaupun filsafat masih dirasa terlalu berat untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah menengah apalagi sekolah dasar. 

Penyebabnya ada macam-macam. Dua yang paling populer adalah (1) filsafat membutuhkan pemikiran kognitif yang memadai dan diyakini banyak orang bahwa modal ini belum nampak pada anak usia remaja, atau (2) di sekolah, termasuk di Indonesia, sudah memiliki terlalu banyak materi pelajaran. 

Mengenalkan satu elemen tambahan seperti filsafat dikhawatirkan akan mengalihkan perhatian para siswa dari apa yang seharusnya mereka pelajari. Filsafat dikhawatirkan akan membuat para siswa jadi pribadi yang skeptis alih-alih menjadi seorang pembelajar. 

Filsuf Amerika Serikat Gareth Matthews menantang dua alasan ini. Menurutnya, sekalipun kognitif anak-anak belum terbangun dengan sempurna atau memadai, mereka memiliki modal rasa ingin tahu yang besar, seperti halnya filsuf. Dan dari rasa ingin tahu yang besar ini, jika menemukan kanal yang tepat (orangtua yang sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan aneh anaknya), mereka akan menciptakan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang “dalam”. 

Matthews menyediakan contoh-contoh nyata dalam beragam situasi yang ia catat dalam buku yang ia kerjakan pada 1980 silam, Philosophy and the Young Child. Tim (6), misalnya, pada suatu saat, sambil menjilati mainannya, bertanya, “Ayah, bagaimana kita bisa yakin bahwa semua ini bukanlah mimpi belaka?” 

Lalu Jordan (5) yang sebelum tidur bertanya, “Jika aku pergi tidur pukul delapan malam dan bangun pukul tujuh pagi, bagaimana aku bisa tahu bahwa tangan kecil [jarum] jamku berputar hanya sekali? Apa aku harus bangun semalaman untuk memastikannya? Jika aku berpaling meski hanya sebentar, mungkin jarum jam kecil itu akan berputar dua kali.” 

Ada juga John Edgar (4), yang pernah melihat pesawat terbang, kian tinggi, dan pelan-pelan hilang di cakrawala. Suatu kali ia berkesempatan untuk naik pesawat untuk pertama kalinya. Penerbangan berlangsung lancar. Usai tanda melepas sabuk pengaman mati, ekspresi muka Edgar terlihat lega. Lalu dengan intonasi seakan masih bingung, ia berkata pada orang tuanya, “Benda-benda tak benar-benar jadi kecil di pesawat ini saat terbang.” 

Edgar rupanya selama ini berpikir bahwa saat pesawat terbang menjauh ukurannya juga benar-benar kian mengecil. 

Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi Matthews adalah secercah kognisi bahwa anak-anak juga filosofis. Bahkan ia berani menjamin bahwa orang dewasa pun pernah bertanya hal yang sama. Persoalannya, selama ini filsafat selalu dipahami ilmu yang kompleks, terstruktur, dan berat. 

Orang-orang lupa bahwa filsafat berawal dari sebuah kegiatan yang anak-anak hingga orang tua lakukan: bertanya-tanya. Filsafat akhirnya menjadi penting untuk diajarkan di segala usia, tinggal disesuaikan metodenya. 

Orangtua yang baik tentu saja tak membunuh rasa ingin tahu anaknya. Mereka justru memfasilitasinya, dan merasa senang jika anaknya tumbuh jadi pribadi yang cerewet. Rasa ingin tahu yang besar ini adalah modal yang baik untuk meraih prestasi yang membanggakan saat si anak sudah bersekolah, sebagaimana ragam hasil penelitian para ahli pendidikan di beragam lembaga. Rasa penasaran adalah kunci.

sumber: https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/filsafat-ampuh-tingkatkan-nilai-matematika-dan-literasi-anak-cmqv

.